Langsung ke konten utama

KITA HANYA SISA KEIKHLASAN YANG TAK DIIKHLASKAN



Dulu, kita pernah ada dalam satu ruang, satu tujuan. Kita pernah ada dalam satu harapan. Kita pernah ada dalam satu kemungkinan-kemungkinan tak berbatas.

Dulu, kita berbagi tawa setiap malam, setiap jam, setiap menit, setiap kita mampu untuk saling melakukan.

Dulu, jarak adalah sebuah kemudahan, dapat ditembus, dapat dicapai hanya dengan sebuah jentikan.

Dulu, bersama adalah sebuah kebahagiaan. Berbagi cerita melahirkan kedekatan. Mencari keseruan adalah sebuah kesenangan. Dan, bersama menikmati hujan, adalah sebuah keajaiban.

Kita pernah bercengkrama, menikmati kebersamaan bersama. Menjalani semua bersama semesta.

Kita juga pernah merangkul cita-cita. Berharap semua baik-baik saja. Berharap semua jadi apa yang kita minta.

Kau mendorongku untuk tetap berdiri. Kau mengajakku untuk bangkit lagi. Kau membawaku merangkai mimpi. Kau memberiku angin untuk dapat dapat bernapas kembali. Tetapi, itu hanyalah dulu.

Kini, kita hanya sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan. Saling melepas, saling membebaskan. Membiarkan terbang satu sama lain. Membiarkan merengkuh bahagia menurut masing-masing.

Kita memang pernah saling sepakat untuk saling menjaga. Kita pernah saling sepakat untuk saling menerima. Kita, pernah saling sepakat untuk tetap bersama.

Dan nyatanya itu hanyalah sepakat. Nyatanya itu hanyalah sepakat. Tidak mengikat. Tidak terikat.

Kini, terbanglah kemana pun kau mau. Pergilah kemana pun yang ingin kau tuju. Pulanglah kapanpun kau mau. Karena sejatinya tidak ada yang mengusirmu. Karena sejatinya tidak ada yang mengeluarkanmu.



Komentar