Dulu,
kita pernah ada dalam satu ruang, satu tujuan. Kita pernah ada dalam satu
harapan. Kita pernah ada dalam satu kemungkinan-kemungkinan tak berbatas.
Dulu,
kita berbagi tawa setiap malam, setiap jam, setiap menit, setiap kita mampu
untuk saling melakukan.
Dulu,
jarak adalah sebuah kemudahan, dapat ditembus, dapat dicapai hanya dengan
sebuah jentikan.
Dulu,
bersama adalah sebuah kebahagiaan. Berbagi cerita melahirkan kedekatan. Mencari
keseruan adalah sebuah kesenangan. Dan, bersama menikmati hujan, adalah sebuah
keajaiban.
Kita
pernah bercengkrama, menikmati kebersamaan bersama. Menjalani semua bersama
semesta.
Kita
juga pernah merangkul cita-cita. Berharap semua baik-baik saja. Berharap semua
jadi apa yang kita minta.
Kau
mendorongku untuk tetap berdiri. Kau mengajakku untuk bangkit lagi. Kau
membawaku merangkai mimpi. Kau memberiku angin untuk dapat dapat bernapas
kembali. Tetapi, itu hanyalah dulu.
Kini,
kita hanya sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan. Saling melepas, saling
membebaskan. Membiarkan terbang satu sama lain. Membiarkan merengkuh bahagia
menurut masing-masing.
Kita
memang pernah saling sepakat untuk saling menjaga. Kita pernah saling sepakat
untuk saling menerima. Kita, pernah saling sepakat untuk tetap bersama.
Dan
nyatanya itu hanyalah sepakat. Nyatanya itu hanyalah sepakat. Tidak mengikat.
Tidak terikat.
Kini,
terbanglah kemana pun kau mau. Pergilah kemana pun yang ingin kau tuju.
Pulanglah kapanpun kau mau. Karena sejatinya tidak ada yang mengusirmu. Karena
sejatinya tidak ada yang mengeluarkanmu.

Komentar
Posting Komentar